FreeBSD: Unix-like Operating System
Getting to Know
FreeBSD At a Glance
FreeBSD adalah sebuah sistem operasi untuk berbagai platform (server, desktop, dan embedded platform lainnya) yang berasal dari BSD (Berkeley Software Distribution), sebuah versi dari UNIX yang dikembangkan di Universitas California, Berkeley.1
UNIX adalah sistem operasi yang didesain untuk menyediakan lingkungan komputasi yang stabil, aman, dan efisien. Sistem operasi UNIX ini dikembangkan pertama kali oleh AT&T Bell Labs (sebuah pusat penelitian) oleh Ken Thompson, Dennis Ritchie, dan kawan-kawannya,2 yang kemudian menjadi basis dari sistem operasi modern saat ini, seperti Linux, FreeBSD, dan MacOS.3
{{< lead >}} Singkatnya, FreeBSD adalah sistem operasi berbasis UNIX yang dikembangkan oleh BSD dan bersifat open source. {{< /lead >}}
Berikut adalah diagram UNIX operating system:

FreeBSD vs Linux
Jadi, meskipun terinspirasi dari sumber yang sama (UNIX), FreeBSD dan Linux berbeda. Selain beda pengembangnya (FreeBSD dikembangkan oleh BSD, Linux dikembangkan oleh Linus Torvald), perbedaan mendasar lainnya juga ada di kernel: FreeBSD punya kernelnya sendiri yang dikembangkan oleh FreeBSD project, sementara Linux menggunakan satu sumber kernel yang sama, yaitu kernel Linux.
Berikut adalah perbandigan FreeBSD dan Linux secara spesifik:4
| Aspek | FreeBSD | Linux |
|---|---|---|
| Kernel & OS | OS lengkap (kernel + userland dikembangkan bersama) | Hanya kernel, distro menggabungkan userland (GNU, dll) |
| Lisensi | BSD License (lebih permisif) | GPL (copyleft, lebih ketat) |
| Struktur Sistem | Lebih konsisten & terintegrasi | Bervariasi tergantung distro |
| Manajemen Paket | pkg, ports collection | apt, dnf, pacman, zypper, dll |
| Ports vs Repo | Ports: compile dari source + opsi fleksibel | Binary package lebih umum, source opsional |
| Dokumentasi | Sangat rapi & terpusat (FreeBSD Handbook) | Sangat banyak, tapi tersebar per distro |
| Stabilitas | Sangat stabil (fokus server) | Stabil, tapi tergantung distro (Debian vs Arch, dll) |
| Performa | Konsisten, efisien untuk server/networking | Sangat baik, sering unggul di hardware terbaru |
| Dukungan Hardware | Lebih terbatas | Sangat luas |
| Driver | Lebih sedikit | Lebih banyak & cepat update |
| Sistem File | ZFS native support kuat | ZFS ada, tapi tidak native (lisensi conflict) |
| Security | Fitur kuat (jail, secure design) | Kuat (SELinux, AppArmor) |
| Virtualisasi | Jails (ringan & efisien) | Docker, LXC, KVM, dll |
| Containerization | Jails | Docker, Kubernetes, Podman |
| Update Sistem | Terintegrasi (base system + packages terpisah) | Bergantung distro |
| Komunitas | Lebih kecil | Sangat besar |
| Penggunaan Umum | Server, networking, firewall | Server, desktop, embedded, cloud, dll |
| Kemudahan Penggunaan | Lebih teknis | Banyak distro user-friendly (Ubuntu, Mint, dll) |
| Customization | Tinggi (ports system) | Sangat tinggi (tergantung distro) |
| Boot System | rc.d | systemd (umumnya), juga alternatif |
Dengan perbandingan ini, maka keputusan untuk menggunakan FreeBSD atau Linux diserahkan kepada kalian masing-masing.
Btw, saya kira “bacaan tambahan” yang cukup lengkap tentang UNIX bisa kalian jumpai di artikel ini: https://www.stromasys.com/resources/all-about-the-unix-operating-system/
Installation
Pada skenario ini, saya hanya akan meng-install FreeBSD sebagai VM (virtual machine) saja menggunakan KVM (kernel-based virtual machine) di Archlinux. Berikut adalah langkah-langkanya:
Pre-Installation
1. Downloading ISO file
Download file ISO terbaru dari FreeBSD di sini: https://www.freebsd.org/where/
Terdapat 3 pilihan file di sana, dengan berbagai arsitektur:5
- Installer: File ISO (.iso) untuk instalasi FreeBSD di desktop, laptop, atau server.
- VM: File image VM (.qcow, .vmdk, vhd) yang sudah ter-install FreeBSD, bukan file instalasi.
- SD Card: Untuk embedded systems seperti Raspberry Pi yang biasanya menggunakan SD Card.
Notes: Saya pilih file ISO (.iso) yang DVD.
Ini adalah file ISO (.iso) yang saya gunakan dalam tutorial ini (FreeBSD 15.0):
https://download.freebsd.org/releases/amd64/amd64/ISO-IMAGES/15.0/FreeBSD-15.0-RELEASE-amd64-dvd1.iso
2. Creating a VM
Attention!
Tutorial ini hanya mendemonstrasikan instalasi FreeBSD di KVM dengan Virt-Manager dan QEMU. Jika kalian ingin meng-install FreeBSD di Hypervisor yang lain seperti VMWare atau VirtualBox, silakan.
Artikel ini tidak menjelaskan secara detail cara instalasi Virt-Manager. Untuk meng-install Virt-Manager di Linux, kalian bisa baca artikel saya yang lain:

Untuk membuat VM dengan KVM dan QEMU:
- Hidupkan service
libvirtddan aktifkan VM network.
sudo systemctl start libvirtdsudo systemctl status libvirtd
sudo virsh net-start defaultsudo virsh net-list --all- Buat VM dengan di
virt-manager.
virt-manager --connect qemu:///system --show-domain-creator- Pilih “Local install media (ISO image or CDROM)”.
- Pilih file ISO (.iso) FreeBSD yang sudah kalian download.
- Alokasikan CPU & RAM.
- Alokasikan storage (penyimpanan).
- Sesuaikan nama VM & network (jika perlu).
- Selesai.
Installation Process
Setelah proses membuat VM selesai, akan muncul window baru, yang menandakan VM FreeBSD tersebut berhasil dibuat dan sedang berjalan. Berikut adalah tahapan-tahapan instalasinya:
Dokumentasi instalasi FreeBSD sudah dijelaskan dengan jelas dan detail di: https://docs.freebsd.org/en/books/handbook/bsdinstall/
1. Boot Installer
Pilih “1. Boot Installer [Enter]”

2. Install
Pilih “Install”.

3. Keymap Selection
Pilih “default” pada keymap selection.

4. Hostname
Buat Hostname (nama mesin FreeBSD kalian).

5. Installation Type
Pilih “Distribution Sets” pada Installation Type, karena lebih stabil.6

6. Selecting Components
Pilih 3 komponen: “kernel-dbg”, “lib32”, dan “ports”.

7. Partitioning
Pilih “Auto (ZFS): Guided Root-on-ZFS” pada Partitioning.

8. ZFS Configuration
- Pada Configure Options, pilih “Install: Proceed with Installation”

- Pada Virtual Device Type, pilih “stripe: Stripe - No Redundancy”

- Ceklis disk yang akan kita gunakan. Akan ada window “warning”, pilih “Yes”. Proses ekstraksi berjalan, tunggu hingga selesai.

9. Root Password
Buat Password Root

10. Network Manager
Pilih “Auto” pada Network Manager yang tersedia. Tunggu hingga mesin mendapatkan DHCP IP.

11. Timezone Selector
Pada “Timezone Selector”, pilih Asia > Indonesia > Java, Sumatera. Akan muncul bagian konfirmasi (WIB), pilih “Yes”.

12. Time & Date
Time & Date biarkan default (di-skip saja).

13. System Configuration
Selain sshd & dumpdev (default), pilih juga moused sebagai service yang akan dijalankan ketika booting.

14. System Hardening
System hardening biarkan default.

15. Add User Account
Pada Add User Account, kita hanya perlu membuat “username”, “full name”, dan jangan lupa menambahkan user group-nya ke “wheel”. Sisanya biarkan default. Pilih “Yes” pada kolom konfirmasi.

16. Final Configuration
Pilih “Finish” jika sudah tidak ada yang ingin diubah lagi.

Dan inilah pertanda bahwa instlasi kita selesai:

Dengan demikian, proses instalasi FreeBSD sudah berakhir! Kita bisa mengabaikan “Manual Configuration” tersebut jika memang sudah tidak ada yang perlu dimodifikasi/diganti/diubah lagi.
Setelah itu, kita dapat me-reboot sistem FreeBSD kita.
17. Login
Saya berhasil login ke FreeBSD!
Jangan khawatir, tampilannya (interface) memang masing berbasis CLI (Command Line Interface), karena kita belum meng-install DE (Desktop Environment) atau WM (Window Manager) apapun.

Post-Installation
1. Update System
Setelah instalasi berhasil, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah meng-update sistem:
su - # login ke user rootfreebsd-update fetchfreebsd-update install2. Install sudo
Kita akan meng-install sudo. Tujuannya jelas, agar ketika kita memerlukan akses root (misalnya untuk meng-install package), kita tidak perlu selalu login ke user root, karena bisa menggunakan sudo.
Karena baru pertama kali menggunakan pkg sebagai package manager, kita akan diminta meng-install pkg terlebih dahulu.
su - # login ke root shellpkg install sudoSetelah instalasi berhasil, jangan lupa mengaktifkan akses “wheel” ke sudo:
visudo # masuk ke konfigurasi sudoers%wheel ALL=(ALL:ALL) NOPASSWD: ALL # uncommentUntuk memastikan sudo sudah berhasil ter-install dan terkonfigurasi:
sudo suFootnotes
Support & Share
If this article helped you, please share or support!











