Dari 1-10 (dengan skala 1: paling tidak cantik dan 10: paling cantik), seberapa cantik tampilan tangkapan layar pada cover artikel ini? Screenshot tersebut saya “curi” dari sebuah akun github bernama addy-dclxvi pada reponya, openbox-theme-collection.
Kalau kalian mengunjungi repo tersebut, kalian akan menemukan keindahan-keindahan sebuah window manager bernama openbox di sana. Keindahan yang saya maksud di sini bukan keindahan biasa, tapi keindahan yang muncul dari kesederhanaan namun mampu memberikan kesan elegan dan nostalgic (oke, setidaknya ini menurut saya pribadi, hehe). Kita bahas…
Mengapa indah? Karena openbox adalah salah satu window manager di linux yang (sangat) mudah di-kustomisasi sesuka hati penggunanya.
Mengapa sederhana? Karena openbox adalah salah satu window manager yang bisa digunakan oleh “siapapun - pemula maupun sesepuh” dan “dimanapun - di laptop jadul, laptop high end, atau virtual machine (VM)”.
Mengapa elegan dan nostalgic? Karena openbox memang memungkinkan penggunanya untuk tetap elegan meski sedang bernostalgia, misalnya.
Tiga alasan tersebut menjadi alasan utama openbox sebagai window manager alternatif desktop environment, khususnya bagi pemula di linux yang kebetulan mempunyai resource (re: cpu & ram) terbatas.
Note:
Untuk penjelasan lebih jauh tentang openbox, sila baca-baca di sini
Beberapa distro linux ada yang secara default memang menggunakan window manager openbox ini tanpa desktop environment (DE), diantaranya adalah1:
Karena ketiga tersebut secara default sudah menggunakan openbox, kalian bisa langsung menggunakannya begitu selesai menginstall distro-distro tersebut untuk merasakan sensasi indah, sederhana, elegan dan nostalgic-nya openbox ✌️.
Tapi, jika kalian ingin tau bagaimana openbox ‘fresh from the oven’ alias openbox versi murni, kita akan coba install bersama. Sebelumnya, sebagai informasi saja, di sini saya akan menunjukkan demo instalasi openbox via archinstall script di distro Archlinux karena I use Arch BTW!. Panduan instalasinya akan persis sama seperti yang ada di artikel saya berjudul “Instalasi Archlinux KDE via archinstall”, kecuali pada bagian profile.
Selanjutnya, copy-paste xinitrc dari /etc/X11/xinit/xinitrc ke .xinitrc dan folder /etc/xdg/openbox ke .config:
Terminal window
1
cp/etc/X11/xinit/xinitrc.xinitrc
2
cp-R/etc/xdg/openbox.config
Kita edit file .xinitrc dengan nano, hapus atau comment lima baris terakhir berikut & tambahkan baris perintah untuk memulai openbox via startx:
Terminal window
1
# twm &
2
# xclock -geometry 50x50-1+1 &
3
# xterm -geometry 80x50+494+51 &
4
# xterm -geometry 80x20+494-0 &
5
# exec xterm -geometry 80x66+0+0 -name login
6
7
execopenbox-session# start openbox via startx
Berikutnya, kita edit file .config../images/openbox/autostart, tambahkan baris berikut di baris paling akhir untuk me-launch program-program berikut ketika selesai login:
Terminal window
1
tint2& # panel
2
xrandr-s1920x1080# resolusi
3
feh--bg-scale~/Downloads/blue.png# wallpaper
4
xfce4-terminal# terminal emulator
Note:
sesuaikan konfigurasi resolusinya dengan layar komputer/laptop kalian.
kita harus mengunduh gambar agar bisa tampil sebagai wallpaper, jadi, untuk sementara, gunakan wallpaper berikut terlebih dahulu
itu pertanda bahwa kalian berhasil menginstall openbox! YEY!
Congrattzz!! 🥳 🥳 🥳
Dan kalau kita perhatikan, openbox merupakan salah satu window manager yang ringan karena menggunakan resource yang rendah. Berikut penggunaan RAM (random access memory)-nya yang hanya memakan 160-an MB:
Sekarang, kita akan mengkonfigurasi beberapa hal yang menurut saya cukup penting karena terkait dengan kenyamanan dan estetika. Beberapa hal yang akan kita konfigurasi pada bagian “Konfigurasi Sederhana” ini setidaknya ada 7 hal:
Yay adalah salah package manager untuk AUR (Arch User Repository). Beberapa package manager yang tidak terdapat di database repository archlinux biasanya tersedia di aur. Jadi, kalau kita ingin meng-install packages dari aur, kita membutuhkan package manager khusus karena tidak bisa menggunakan pacman. Nah, sebetulnya, ada beberapa package manager (atau yang biasa disebut juga sebagai AUR helpers), seperti yay, paru, pacaur, pamac, dan trizen3. Tapi, saya akan gunakan yay karena alasan kebiasaan saja.
Sebelum menginstall yay, kita perlu meng-installgit terlebih dahulu.
Terminal window
1
pacman-Sgit
Baru sekarang kita bisa meng-installyay dengan perintah berikut:
Terminal window
1
gitclonehttps://aur.archlinux.org/yay.git
2
cdyay
3
makepkg-si
Untuk memastikan yay sudah ter-install, ketikkan perintah berikut:
Terminal window
1
yay--version
Jika instalasi berhasil, maka perintah tersebut mengeluarkan output berupa versi yay yang sudah ter-install.
Setelah itu, jangan lupa untuk update repo aur via yay:
Terminal window
1
yay-Syu# update repository
Untuk menginstall package atau software via yay, hampir mirip dengan pacman, ketikkan perintah berikut (tanpa sudo) - misalnya saya ingin menginstall xrdp:
Terminal window
1
yay-Sxrdp# install xrdp
Akan muncul daftar rekomendasi package yang kita request untuk di-install (kebetulan xrdp hanya ada satu kandidat saja). Tekan [Enter] - [Enter] saja untuk langsung memasang xrdp.
Seperti deskripsi yang sudah saya lampirkan sebelumnya di bagian instalasi, tint2 adalah program untuk menampilkan panel. Sebetulnya, tint2 yang tampil sekarang sudah cukup sebagai tampilan panel. Hanya saja, menurut saya masih belum fungsional. Jadi, nanti saya akan konfigurasi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi saya.
Kita akan mengkonfigurasi tint2 sehingga akan tampak sebagai berikut:
Seperti terlihat, tint2 akan saya “tempel” di atas, dengan shortcut icon aplikasi seperti firefox, code, thunar, xfce4-terminal, dan mousepad. Kemudian, di sebelahnya menampilkan lokasi current workspace, di sebelahnya ada tanggal dan jam.
Pertama, buka tint2 settings atau kalian bisa klik pada icon kotak putih dengan pensil di tint2 yang tampil. Kemudian, pilih config file yang horizontal-icon-only.tint2rc, klik ceklis di pojok kiri atas.
Untuk menambahkan icon aplikasi untuk shortcut, klik Theme (di pojok kiri atas) -> Edit Theme.
Di bagian Launcher, tinggal pilih aplikasi-aplikasi yang ingin ditampilkan, kemudian klik Apply.
Di bagian Taskbar, pastikan tidak ada yang terceklis. Klik Apply.
Ketika pertama kali membuka thunar, akan melihat tampilannya sebagai berikut:
Tampak bahwa saya hanya memiliki satu default folder, yaitu folder atau direktori Downloads saja. Nah, untuk menampilkan semua default folder pada home directory, kita bisa menggunakan xdg-user-dirs.
Install dulu,…
Terminal window
1
sudopacman-Sxdg-user-dirs
Kemudian, untuk men-generate folder-folder default di home directory, ketikkan perintah berikut:
Terminal window
1
xdg-user-dirs-update
Untuk menampilkannya di sidebar sebagai shortcut, tinggal drag and drop seperti berikut:
Pada bagian ini, saya akan menggunakan obconf (Openbox Configuration Manager) sebagai GTK tools untuk mengganti tema window dan juga menghapus animasi-nya (dengan alasan kecepatan dan efisiensi). Untuk mengampilkan obconf, ketikkan obconf di terminal.
Mengganti Tema Window
Terminal window
1
obconf
Kemudian, di bagian Themes, kita pilih “Onyx”.
Menghapus Animasi Window
Di bagian Appearance, un-checkAnimate iconify and restore.